Bawaslu

minsel

minsel

Iklan

Iklan

From Zero to Hero Pengelolaan Keuangan Daerah Kepulauan Talaud di masa SWM

18/02/19, 16:17 WIB Last Updated 2019-02-18T09:17:21Z
adv google


Melonguane, BLITZ--Perjalanan jelang 17 tahun Talaud berotonomi, penuh liku dan kerikil tajam yang bahkan sampai hari ini masih menyisakan beberapa persoalan dalam penanganan aparat hukum.


Tantangan terbesar yang dihadapi Bupati periode 2014-2019 Sri Wahyumi Manalip SE adalah bagaimana meningkatkan infrastruktur jalan dan jembatan serta terpenting adalah PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH.


'Bagi saya, yang penting dan paling utama itu bekerja bukan bicara. Maka saya mulai bekerja. Karena jarak 1000 Meter tidak akan mungkin terlampaui jika tidak mengayunkan langkah 1 meter," ujar bupati yang lebih senang di bilang bernyali dibanding cantik, sekalipun memang kecantikannya diakui banyak orang memiliki pesona luar tersendiri.


Konsep, perencanaan, penganggaran dan pelaksanaan pun dikerjakan sejak tampuk kepemimpinan dipegangnya.

Kendala demi kendala dihadapinya dan tidak pernah perempuan bernyali besar ini berfikir untuk mundur.


Mulai dari usahanya memperjuangkan kehadiran dan dibangunnya Jalan Nasional Lingkar Pulau Karakelang, Jalan Provinsi untuk Lingkar Salibabu dan 60 Miliar rupiah lebih untuk menuntaskan jalan Lingkar Pulau Kabaruan.


"Apapun kata orang selama saya melakukan pembangunan dan kerja membangun daerah, biarlah semua mereka bicara dan saya membuktikannya dengan kerja, kerja dan kerja. Buktinya adalah apa yang bisa diradakan dan dinikmati masyarakat hari ini," kata SWM.


Perjuangan dan kerja tak kenal henti bupati termasuk menghadirkan Presiden RI Joko Widodo meresmikan Bandar Udara Miangas membuktikan etos kerja, niat mulia membangun daerah dan nyali besarnya bahkan sering dinilai sebagian kalangan nekat, karena meski tidak tahu berenang, SWM membawa sendiri Speed Boad ditengah terjangan ombak setinggi 4-6 Meter menuju Miangas guna mempersiapkan acara peresmian tersebut.


Ada begitu banyak kerja dan hasil pembangunan baik fisik maupun non fisik selama hampir lima tahun kepemimpinannya memimpin Talaud yang berjuluk Tanah Porodisa, Destinasi wisata Pulau Sara'a, Monumen Tuhan Yesus Memberkati, kehadiran buku cerita rakyat Dari Ramensa Ke Manongga, penguatan adat daerah dan perjuangan lainnya.


Tetapi hasil paling istimewa bagi Tanah Porodisa ialah apa yang disebut dalam judul ini yakni From Zero to Hero dalam pengelolaan keuangan daerah. Mengapa demikian..?

Sejak berotonomi, pengelolaan keuangan daerah tidak pernah beranjak dari Tidak Wajar, Disclaimer dan Tidak memberikan Pendapat.


Ini yang mengganggu sekaligus menjadi kegelisahan yang dituangkan dalam komitmen HARUS BERUBAH!!!

Maka SWM melakukan langkah-langkah taktis administratif dan penetapan pejabat yang dinilai mampu mengikuti ritme kerja dan mengikuti program kerja serta impiannya memajukan Tanah Porodisa.


Jika harus memuat data teknisnya, maka tulisan ini mungkin perlu ratusan kertas untuk memuatnya. TETAPI bukti otentik tergambar jelas melalui penilaian Badan Pemeriksa Keuangan RI yang menyatakan untuk 4 tahun kepemimpinan SWM, 2014 dan 2015 dalam hal pengelolaan keuangan daerah, Pemkab diganjar opini Wajar Dengan Pengecualian dan 2 tahun berturut-turut berikutnya yakni 2016 dan 2017 diberi opini atau penilaian Wajar Tanpa Pengecualian!


Disinilah titik awal perubahan pergerakan pembangunan daerah, dimana terjadi optimalisasi program anggaran yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Anggaran yang ada di kelola secara baik sesuai mekanisme dan aturan yang berlaku sehingga terjadi optimalisasi hasil atau output dan outcomenya.


Paling penting, dari tidak mendapat apa-apa (from zero) ditangan perempuan bernyali besar Tanah Porodisa mendapatkan suntikan dana lebih dari 50 Miliar Rupiah di dua tahun terakhir (to hero) akibat pengelolaan keuangan daerah yang baik.


Apakah kemudian ini membuat SWM berpuas diri? Bisa saya katakan tidak. Karena seperti yang sering beliau katakan, membangun Talaud harus berteman dengan angin dan bersahabat dengan badai tanpa perlu mengeluh. Angin adalah tantangan dan Badai adalah skeptisme, cercaan bahkan hinaan kepada dirinya.


"Ketika kita berteman dengan angin dan bersahabat dengan badai, maka kapanpun pasti kapal kita akan tiba di pelabuhan yang teduh untuk menikmati hasil perjuangan kita. Saya masih memiliki kerinduan dan akan terus membangun Talaud, kapanpun, dimanapun dan dalam kapasitas apapun. Karena kerinduan saya adalah Talaud harus menjadi yang  terdepan dalam semua hal. Kapal hidup saya masih akan berjalan dalam tuntunan Tuhan Yang Kuasa kemana dia menentukan langkah harus kuayunkan dan hidupku ku arahkan," kata SWM.



Den-Dala
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • From Zero to Hero Pengelolaan Keuangan Daerah Kepulauan Talaud di masa SWM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terbaru

Iklan