Bawaslu

minsel

minsel

Iklan

Iklan

Covid19 Teguran, Pentua Adat di Talaud Gelar Ritual Tolak Bala

01/04/20, 11:15 WIB Last Updated 2020-04-01T04:17:16Z
adv google
Prosesi ritual doa tolak bala pentua adat Beo.




Melonguane, BLITZ--Sebagai daerah yang masih menjunjung adat dan budaya lokal, hantaman Pandemi Covid 19 di hampir seluruh belahan dunia, para pemuka adat Beo bersepakat menggelar ritual adat Tolak Bala.


Ritual ini digelar atas keyakinan Covid 19 merupakan peringatan sekaligus teguran dari Yang  Kuasa kepada para warga terlebih pemimpin tanpa terkecuali, bahwa ada sesuatu yang salah dalam menjalankan kepemimpinannya dan harus segera melakukan perbaikan demi kebaikan warganya.


"Covid 19 ini terjadi secara menyeluruh dan semua masyarakat ikut merasakannya, maka adat melihat itu adalah teguran untuk seluruh umat manusia terlebih kepada para pemimpin. Maka dari itu, doa secara adat kami panjatkan kepada Tuhan yang maha esa, dengan harapan agar wabah ini segera berakhir, secara umum di Talaud dan secara khusus di wilayah Kecamatan Beo,” tandas Justus.



Para pentua adat yang hadir yakni RatunTampa Beo Timur Justus Tuwongkesong, S.Pd, Ratum Banua Beo Timur Obrin Sarundaitan, Inangu Wanua Beo Timur Yoel Loronusa, Ratum Banua Beo Barat Markuslon Manaida, Inangu Wanua Beo Barat Adrianus Liroga dan Inangu Wanua Beo Magdalena Anaadda didampingi Camat Beo Petrus Pangendaheng MPd, Lurah Beo Raden Mangkey, serta Danramil Beo Kapten Wofsi Metusala.


Justus Towongkesong, menjelaskan, ritual ini tak direncanakan namun selalu digelar ketika ada wabah penyakit, kejadian luar biasa, bala atau malapetaka lainnya, baik secara lokal maupun nasional.


“Ritual ini dilakukan dini hari bukan tanpa alasan. Adat meyakini, semua masyarakat akan bangun di pagi hari dan menyambut mata hari sebagai pembawa berkat dari Tuhan yang maha esa. Prosesi tolak bala ini selalu berhasil dan mendatangkan hasil baik,” terang Justus.


Sedianya, sambung Justus, jika tak ada larangangan social distancing dari pemerintah, dalam prosesi adat ini semua masyarakat akan dilibatkan dan turun untuk melakukan doa secara bersama.


“Prosesi ini tak mengenal agama dan dari mana masyarakat berasal, semuanya harus dilibatkan. Namun karena kali ini ada aturan dari pemerintah soal menjaga jarak, maka yang datang memang hanya pentua adat. Meskipun berlatar belakang adat, namun doa yang dipanjatkan tetap kepada Tuhan yang maha esa, sang empunya bumi dan isinya,” pungkas Justus.



Den-Dala
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Covid19 Teguran, Pentua Adat di Talaud Gelar Ritual Tolak Bala

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terbaru

Iklan