Bawaslu

minsel

minsel

Iklan

Iklan

Lantemona Bantah Sespri-Walpri Bupati Larang Jurnalis Liput HUT ke-19 Minsel

30/01/22, 15:11 WIB Last Updated 2022-01-30T08:14:19Z
adv google
Gerald Lantemona SSTP, Sespri Bupati Minsel.(ist)


MINSEL, BLITZ-- Sespri dan Walpri Bupati Minahasa Selatan (Minsel) membantah adanya tudingan sepihak terkait pelarangan peliputan dibarengi tindakan penarikan paksa dan perampasan alat peliputan oknum wartawan pada kegiatan upacara bendera dalam memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Minsel ke-19, Kamis (27/01) pekan lalu. 


Sespri dan Walpri itu hanya menjalankan tugas protokoler kegiatan hari istimewa itu dengan membatasi area peliputan, namun bukan melarang.


“Kami hanya membatasi area peliputan wartawan pada kegiatan upacara itu. Artinya, sesuai protokoler kegiatan yang ada, tempat untuk peliputan para teman – teman wartawan sudah diatur agar supaya kegiatan itu berjalan dengan baik dan lancar. Tapi oknum wartawan yang bersangkutan memaksa terus memasuki area yang dibatasi. Sehingga kami menegur berulang kali,” ungkap Gerald Lantemona SSTP, Sespri Bupati Minsel, yang turut didampingi dan disaksikan rekan – rekan Walpri Bupati dan Wakil Bupati.


Menurut Lantemona, ia bersama rekan – rekan walpri lainnya menegur oknum wartawan tersebut dengan sopan. Namun, tidak ditanggapi. Malah, oknum wartawan tersebut terkesan cuek dengam teguran itu.


“Kami tegur dengan baik – baik. Kami bilang begini, Pak (oknum wartawan) nanti ba video sabantar jo ne ini upacara so mulai. Tapi yang bersangkutan cuek. Kami tegur berulang kali, tapi tetap cuek,” urai Lantemona yang turut diaminkan rekan – rekan Walpri Bupati dan Wakil Bupati Minsel, waktu itu.


Naasnya, teguran yang dilayangkan Lantemona justru berbalik arah. Lantemona nyaris ditampar akibat teguran baik tersebut. Malahan oknum wartawan berkata kasarnya .


“Kita sementara ba rekam ngana mo se brenti pa kita, bantar ta paka pa ngana. (Saya sementara merekam video kamu mau hentikan, sebentar lagi saya tampar kamu),” ujar Lantemona menirukan ucapan oknum wartawan tersebut.


Sontak saja, Lantemona langsung menarik oknum wartawan itu ke belakang panggung upacara agar kegiatan hari lahir Kabupaten Minsel ke-19 itu tidak terganggu dan berlangsung lancar. “Dari situ langsung kita tarek ke belakang dan setelah itu kita langsung bertugas lagi. (Saya langsung menarik oknum wartawan itu ke belakangan panggung agar jangan di depan panggung upacara atau diluar lokasi yang dibatasi. Setelah itu saya kembali bertugas,” urai Lantemona.


Disamping itu, Lantemona juga membantah adanya tudingan soal larangan peliputan berita terhadap oknum wartawan tersebut. “Itu tidak benar. Kami tidak melarang wartawan melakukan peliputan berita. Kami hanya menegur karena yang bersangkutan berada di luar area atau lokasi pembatasan peliputan. Lokasi tempat peliputan bagi teman – teman wartawan telah disediakan dan diatur dengan baik,” bantah Lantemona.


Sekedar diketahui, selain dibalut undang – undang Pers Nomor 40 Tahun 1999, para wartawan juga harus mengedepankan kode etik jurnalistik dalam menjalankan tugas profesi.


Isi kode etik jurnalistik :


Pasal 1, wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beriktikad buruk.


Pasal 2, wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik.


Pasal 3, wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.


Pasal 4, wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul.


Pasal 5, wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.


Pasal 6, wartawan Indonesia tidak menyalagunakan profesi dan tidak menerima suap..


Pasal 7, wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaanya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan off the record sesuai dengan kesepakatan.


Pasal 8, wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.


Pasal 9, wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.


Pasal 10, wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, atau pemirsa.


Pasal 11, wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional.



Penulis: Herdy Wauran/*



Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Lantemona Bantah Sespri-Walpri Bupati Larang Jurnalis Liput HUT ke-19 Minsel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terbaru

Topik Populer

Iklan